iProspect Logo

Memahami Alasan Perlunya Cleansing Data Bagi Brand

Pandemi telah mengubah cara konsumen berperilaku, setidaknya untuk saat ini. Work From Home yang diperpanjang membuat orang-orang lebih jarang bepergian dan belanja secara offline. Di sisi lain, terjadi peningkatan pembelian barang-barang secara online, sehingga menghasilkan perilaku yang sangat berbeda dari masa sebelum pandemi.

Hal ini pun membuat hampir seluruh brand dan agensi mengubah strategi untuk memenangkan target audiens mereka. Dalam beberapa kasus bahkan brand dan agensi membuat model bisnis baru untuk memastikan bahwa kemampuan mereka selalu bisa mengikuti tren perilaku terbaru.

Meskipun membuat model baru atau mengembangkan strategi data tidaklah sulit, menyusun komponen dasar bisa jadi rumit dan memakan waktu. Banyak data CRM brand masih belum melakukan Cleansing Data, sehingga sering kali menimbulkan tantangan dan memperlambat proses penargetan audiens.

Di era di mana banyak hal berubah dari hari ke hari, waktu yang sia-sia sama saja dengan kehilangan pelanggan. Demi memahami alasan mengapa setiap brand perlu melakukan Cleansing Data agar bisa tetap menyesuaikan dengan target audiens, simak informasi di bawah ini!

 

Menyediakan Data yang Tepat dengan Mudah

Kemampuan untuk memahami kebutuhan audiens dengan lebih cepat dan tepat telah membuat First Party Data, yakni data yang dimiliki brand menjadi lebih penting dari sebelumnya. Meskipun proses pengumpulan data dapat dilakukan dengan mudah oleh sebagian brand, meneruskan data yang ada dari agensi atau partner bisnis terbukti menjadi sebuah tantangan.

Brand yang dibantu agensi atau partner bisnis perlu membangun kembali model bisnis dan memberikan informasi dengan lebih akurat. Cara terbaik untuk melakukannya adalah dengan melalui berbagi data hasil cleansing atau data-data yang telah terstruktur.

Mendapatkan data dari pengiklan dapat menjadi penghambat yang mencegah pembuatan model audiens yang cepat dan akurat. Pasalnya, data-data ini telah melaju pesat di sisi digital, tetapi masih tertinggal di media tradisional.

Faktor rumit yang sering kali dihadapi adalah banyaknya data yang berasal dari sumber data yang berbeda dengan format yang berbeda pula, sehingga agak sulit untuk digabungkan. Kondisi ini pula yang akan menimbulkan proses yang lebih banyak di saat perancangan model data. Beberapa brand bisa saja menganggap hal ini mudah, namun yang lain dapat beranggapan hal ini sulit dilakukan.

Kemajuan terbesar di dalam industri periklanan yang memanfaatkan data-data audiens seharusnya mampu melakukan Cleansing Data saat data yang ada tidak lagi relevan.

Namun bagi banyak orang, mereka melihat hal ini sebagai proyek jangka panjang atau sekadar hal yang biasa untuk dilakukan. Anggapan tersebut tentu tidak masalah. Brand yang ingin tetap merasa penting di mata konsumen dan bertahan dari pandemi ini harusnya mampu melakukan Cleansing Data.

Dengan demikian, setiap brand bakal mendapatkan insight dan melakukan perubahan dengan cepat kepada orang yang tepat. Nah, apakah brand Anda salah satunya?