iProspect Logo

Dunia Data Tanpa Third-Party, Apa yang Bisa Kita Lakukan?

Baru-baru ini Apple Safari mengumumkan bahwa mereka telah memblokir semua Cookie Third-Party Data pada Maret 2020. Hal ini berbeda dengan Google Chrome yang baru akan menghapus Cookie Third-Party Data mereka pada tahun 2022.

Apa Sih Sebenarnya Data Third-Party Ini?

Pada dasarnya, data Third-Party merupakan data yang dikumpulkan oleh sebuah bisnis atau entitas lain yang tidak memiliki hubungan langsung ke User atau Customer. Data ini dikumpulkan dan dibagikan kepada perusahaan untuk membantu mereka membangun strategi marketing dan advertising dengan penyusunan data ulang yang lebih efektif.

Seperti yang diketahui bersama, pengumpulan dan penggunaan data semakin hari semakin masif dan cepat. Dibutuhkan Marketer yang cerdas untuk mendapatkan akses yang terbatas ini. Hadirnya konsep data Third-Party ini sebenarnya didukung oleh perkembangan teknologi, khususnya Artificial Intelligence di mana era pemasaran sudah memasuki istilah skala 1:1. Artinya, setiap 1 User bakal mendapatkan 1 iklan yang dibuat secara khusus untuk mereka atau dalam istilah lainnya Personalized Marketing.

Hal ini memungkinkan setiap Marketer dari lini B2B dan B2C membuat iklan-iklan yang dipersonalisasi secara online untuk setiap Customer, sehingga bisa berdampak pada peningkatan Return on Investment (ROI). Hadirnya Third-Party Data juga mengisi kesenjangan informasi mengenai Customer setiap bisnis untuk memberikan pengalaman yang lebih personal kepada mereka.

 

Tantangan yang Dihadapi Oleh Third-Party Data

Sayangnya, kemudahan untuk mendapatkan akses data setiap Customer ini berbanding terbalik dengan adanya pengaturan privasi yang semakin meningkat. Pengaturan privasi ini membatasi pengumpulan dan penggunaan data. Padahal kedua hal tersebut merupakan bagian utama dari Online Marketing dan Advertising.

Aturan-aturan yang dibuat secara khusus ini memengaruhi Third-Party Data yang diandalkan oleh perusahaan untuk menentukan target audiens yang tepat untuk setiap campaign yang dijalankan. Dengan aturan yang ada dan perubahan yang terjadi dengan cepat, setiap perusahaan pun akan semakin kesulitan menjalankan bisnis seperti biasanya.

Dibutuhkan pendekatan yang lebih baik mengenai cara Marketer tetap menjaga relevansi dalam berkomunikasi dengan target audiens. Hal ini sejalan dengan apa yang diungkapkan oleh Rahul Nambiar, CEO iProspect Indonesia, yang mengungkapkan bahwa pendekatan yang lebih transparan dalam mengumpulkan informasi kepada User harus tetap dikedepankan.

"Setiap Marketer juga perlu lebih kreatif dalam berkomunikasi dan mendapatkan data dari para pengguna baru sebagai proses akuisisi. Hal ini tidak hanya akan menghasilkan data yang akurat, tetapi juga membuat hubungan lebih kuat, lebih dipercaya, dan saling menguntungkan dengan para Customer," jelas Rahul.

Sebagai contoh, Brand bisa berinteraksi dengan calon pembeli, misalnya dengan meminta preferensi mereka saat masuk ke situs web atau melakukan identifikasi diri di aplikasi dengan tawaran menarik kepada calon pembeli.

Faktanya, 83% konsumen mengatakan bahwa mereka bersedia berbagi data demi pengalaman yang dibuat secara personal. Dalam platform tertentu, menggunakan audiens yang serupa dari pengguna yang dikonversi bisa menjadi salah satu cara memperlebar audiens demi menghasilkan Lead.

Jika sudah seperti ini, salah satu kemungkinan yang bisa dilakukan oleh bisnis adalah kembali menggunakan Zero-Party Data yang merupakan sistem pengumpulan data yang dikerjakan oleh setiap perusahaan.

Lantas apa saja yang bisa dilakukan oleh setiap bisnis demi mendapatkan kepercayaan pelanggan di masa-masa mendatang? Yuk, diskusikan dengan tim spesialis dari iProspect untuk merencanakan strategi yang tepat.