iProspect Logo

Bagaimana Strategi Pemasaran yang Tepat Selama Ramadan di Masa COVID-19

Ramadan yang menjadi bulan yang dinanti-nanti oleh seluruh umat muslim; yang kini sudah di depan mata. Sayangnya, momen ini tampak lebih mengkhawatirkan sebab munculnya Covid-19 yang oleh World Health Organization (WHO) ditetapkan sebagai pandemi di mana masalah kesehatan ini terjadi di hampir seluruh negara di dunia, termasuk Indonesia.

Munculnya kejadian ini memberikan dampak signifikan terhadap seluruh industri dan bisnis yang ada. Padahal Ramadan bisa jadi kesempatan brand atau pemasar untuk mendapatkan banyak pelanggan baru dan merekatkan hubungan dengan pelanggan setia.

Sebagai solusi, diperlukan strategi pemasaran yang tepat selama bulan Ramadan di masa Covid-19 ini. Seperti apa strategi tersebut? Menurut Arindam Bhattacharyya, Chief Strategy Officer (media and performance) Dentsu Aegis Network Indonesia berikut beberapa hal yang perlu diperhatikan!

Mengoptimalkan Peran dan Tanggung Jawab Terhadap Masyarakat

Adanya kejadian ini menjadi momen penting untuk menyampaikan pesan baik yang terkait dengan visi dan misi perusahaan kepada masyarakat. Hal ini erat kaitannya dengan memenangkan dan membuat Ramadan lebih bernilai. Kedua hal ini menjadi dua tugas utama yang perlu dilakukan.

Demi membuat strategi  pemasaran produk yang baik, setiap brand wajib memperhatikan imbauan dan aturan yang dikeluarkan oleh pemerintah selama terjadinya Covid-19. Menerapkan strategi pemasaran yang terkait dengan kesehatan dan kebersihan merupakan langkah penting yang bisa ditempuh. Hindari strategi yang sifatnya mengada-ada serta tidak mendukung aturan Physical dan Social Distancing.

Membuat Lebih Banyak Konten Online atau Streaming

Februari dan Maret 2020 terjadi lonjakan yang cukup signifikan terhadap konten-konten yang disajikan melalui media online. Kondisi ini disebabkan oleh penerapan sistem Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang menjadikan orang-orang lebih banyak bekerja, beribadah, dan beraktivitas di rumah.

Kecepatan browsing serta konsumsi layanan streaming menjadi sesuatu yang normal saat ini. Konsumsi televisi lebih tinggi 15% dari sebelumnya, browsing di Facebook dan Instagram mengalami peningkatan hingga 30-36%, serta akses ke layanan e-commerce pun naik menjadi 20%.

Hal ini pun dapat dimanfaatkan oleh berbagai brand, yakni dengan membuat lebih banyak konten online atau video streaming yang bisa diakses semua orang. Beberapa konten seperti edukasi kesehatan dan kebugaran akan memainkan peran penting selama bulan puasa.

Menyajikan Kebutuhan Dasar yang Kini Berubah Jadi Kemewahan

Waktu yang lebih banyak dihabiskan di rumah dengan keluarga dan mengurus rumah tangga membuat banyak orang memanfaatkannya sebaik mungkin. Keadaan ini pun memicu perubahan signifikan terhadap barang-barang yang sifatnya kebutuhan dasar, kini berubah menjadi barang yang mewah.

Adapun contoh barang tersebut antara lain pembersih rumah, desinfektan, perawatan pribadi, perlengkapan mandi dan mencuci, bahan-bahan dapur, dekorasi rumah, pewangi ruangan, hingga suplemen kesehatan dan vitamin. Tidak hanya itu, di Ramadan kali ini permintaan terhadap perlengkapan salat dan beribadah pun dipastikan mengalami lonjakan besar.

Maka dari itu, banyak brand yang berlomba menggunakan celah ini selama ramadan. Namun, hal ini tentu harus disesuaikan kembali dengan core produk atau jasa yang ditawarkan. Brand tetap bisa memanfaatkan momentum ramadan dengan strategi yang tepat.

Seperti yang sudah disampaikan Arindam Bhattacharyya, brand bisa mengoptimalkan peran, membuat lebih banyak konten yang sesuai, dan menyajikan kebutuhan untuk para customer.

Selain strategi tersebut, ada beberapa kebiasaan baik yang bisa dipupuk oleh setiap bisnis selama Ramadan di masa COVID-19. Kebiasaan tersebut antara lain sebagai berikut:

  1. Mampu merayakan perbedaan dan memainkan peran umum sebagai pendamping di masyarakat agar bisa menjangkau seluruh pelanggan setia dan para calon pelanggan.
  2. Setiap bisnis baik itu produk atau jasa sebaiknya mulai mendengarkan apa yang dikatakan para pelanggan terhadap produk mereka, khususnya para pelaku bisnis di bidang telekomunikasi.
  3. Mempersonalisasi seluruh pesan yang dibawakan sehingga lebih mengena kepada setiap pribadi yang ada. Pasalnya, Ramadan merupakan momen yang tepat untuk berbagi cerita mengenai kisah pribadi dan refleksi diri.
  4. Di masa-masa ini brand harus lebih dekat dengan customer buat komunikasi lebih menarik dan inspiratif, terutama lewat social media, website, dan channel marketing lain seperti newsletter.
  5. Tone komunikasi menjadi sangat penting jadi jaga setiap pesan komunikasi agar tidak menyebar kepanikan, ubah gaya komunikasi menjadi lebih inspiratif yang sifatnya menenangkan dan menemani customer.
  6. Brand bisa menciptakan tradisi baru di ramadan kali ini, beberapa ide yang bisa digunakan adalah melakukan buka puasa virtual, livestreaming yang berkaitan dengan kegiatan ramadan, dan inisiasi lain.
  7. Memberikan sedikit humor di tengah-tengah masa tidak pasti seperti ini menjadi langkah baik, lakukan komunikasi yang menghibur, memberi harapan, dan canda tawa.

Satu hal penting yang perlu diperhatikan adalah hindari menjadi brand yang opurtunis di tengah situasi yang serba tidak pasti seperti saat ini. Jangan sampai brand yang dikelola malah mencari keuntungan besar dari krisis ini. Saat ini adalah saat emas untuk menarik hati para customer dengan cara menciptakan pemasaran yang menginspirasi dan bertujuan baik.

Itu tadi beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh brand, organisasi, perusahaan, serta pelaku usaha dalam menyusun strategi pemasaran produk selama Ramadan di masa pandemi ini. Yang pasti, usahakan untuk selalu menenangkan dan hindari menyebar kepanikan di masyarakat.