iProspect Logo

Memahami Insight Google tentang Perubahan Perilaku dan Pola Pikir Konsumen Selama Pandemi

Pandemi yang bermula di awal tahun ini ternyata mau tidak mau memengaruhi perubahan perilaku, pola pikir, dan pola kerja setiap konsumen di Indonesia. Sekaitan dengan hal ini, Google beberapa waktu lalu juga membuat ulasan tentang pola pikir (mindset) konsumen selama pandemi. Setidaknya ada beberapa tanda-tanda dari perubahan pola pikir ini dengan terjadinya perubahan rutinitas, kebutuhan, serta prioritas setiap hari.

Sementara itu pandemi tidak hanya menghantam Indonesia, tetapi juga hampir seluruh negara lain di dunia. Dengan miliaran orang yang tinggal dan bekerja dari rumah saat ini, kehidupan normal yang dahulu terjadi pun kini telah berubah sepenuhnya. Rutinitas, kebutuhan, dan prioritas orang menjadi berubah hampir setiap harinya.

Di sisi lain, para marketer pun merasakan dampaknya karena rencana-rencana yang telah ditetapkan di awal sebelum pandemi ini harus dibatalkan. Rencana-rencana tersebut pun mau tidak mau harus beralih ke model marketing yang belum punya panduan sama sekali dan hanya bergantung pada insight pola pikir dan pola kerja konsumen yang terus menerus berubah.

Lantas, apakah perubahan-perubahan ini bakal berlangsung seterusnya dan tahan lama? Berikut ini kita akan melihat bagaimana tren yang dipaparkan oleh Google ini berkembang, baik selama maupun sesudah pandemi ini.

Konsep Ruang dan Waktu yang Berubah

Siapa sangka bahwa perubahan secara besar-besaran ini membuat ruang dan waktu menjadi lebih cair? Aktivitas bermain kini menyatu dengan jam kerja dan hal ini bahkan berlanjut ke akhir pekan. Hampir tidak ada jadwal yang pasti dan terstruktur terhadap pola kerja ini.

Rutinitas sehari-hari di rumah pun tidak jarang menimbulkan kebosanan sehingga terjadi peningkatan pencarian kata kunci ‘boredom’ atau kebosanan sebesar 100% dibanding dengan tahun 2019. Konsep ruang pun bergeser di mana kamar tidur dijadikan kantor dan ruang keluarga dijadikan tempat olahraga. Sementara halaman rumah kerap menjadi ruang hiburan.

Dengan perubahan konsep ruang dan waktu ini, aktivitas hiburan seperti musik, tontonan, dan kebiasaan search yang dapat mengatasi kebosanan akan terus meningkat.

Hubungan Baru dengan Diri Sendiri dan Orang Lain

Personal well-being atau kesejahteraan personal merupakan salah satu fokus terhadap ketidakpastian selama pandemi ini. Hal ini pun berdampak pada perubahan gaya hidup di mana pikiran lebih banyak dikuras. Pusat kebugaran atau konsultasi psikologi yang biasanya buka sepanjang hari untuk melayani orang-orang dengan masalah pada personal well-being kini harus berpindah ke ruang virtual.

Menjaga kehidupan sosial sambil menerapkan protokol kesehatan jaga jarak tentu menjadi hal yang tidak mudah. Daripada harus bertemu, mayoritas orang-orang saat ini pun memanfaatkan ruang virtual untuk tetap menjaga hubungan pertemanan mereka.

Dengan adanya ‘virtual vulnerability’ ini, tren ruang virtual pun akan terus menjadi sarana bagi konsumen untuk berkomunikasi dalam kurun waktu yang lama di masa depan.
 

Perubahan Sistem Kerja dan Berlibur

Meski perubahan gaya hidup yang berlangsung ini terbilang tidak mudah, orang-orang tetap mencari cara untuk tetap bertindak dan berpikiran positif. Kehadiran Meme dan GIF yang dibagikan di media sosial pun menjadi sarana berlibur dan penawar yang meringankan suasana hati.

Waktu liburan yang dibatasi oleh kondisi, membuat konsumen mulai belajar hal-hal baru yangmudah untuk dipelajari. Hal ini dibuktikan dengan peningkatan 60% untuk pencarian kata kunci ‘easy’ di awal frasa di tahun 2020 dan juga peningkatan waktu menonton video tutorial sebesar 65%. 

Daripada sesuatu yang berat dan rumit, kesenangan dan aktivitas yang sederhana sangat menarik perhatian konsumen selama pandemi ini.

Transformasi Pola Konsumsi dan Pengeluaran

Selama pandemi istilah Do It Yourself (DIY) menjadi tren karena adanya banyak layanan yang dibatasi bahkan ditutup sementara waktu. Mau tidak mau konsumen pun dituntut untuk semakin kreatif.

Sebagai contoh, jika selama ini para pekerja kantoran hanya tinggal membeli kopi yang dikonsumsinya sehari-hari, saat ini secangkir kopi pun harus dibikin sendiri di rumah (Total waktu menonton video resep kopi meningkat sebesar 4 kali lipat secara global). Menariknya, pola kerja DIY ini pun memengaruhi anggaran pengeluaran, maka pebisnis jasa disarankan untuk mendukung kegiatan DIY dengan cara tertentu, contohnya meluncurkan DIY Kit.

 

Sebagai marketer, bagaimana cara menghadapi perubahan perilaku konsumen ini. Berikut beberapa di antaranya yang bisa dilakukan:

  1. Pertimbangkan Audiens
    Meskipun tren ini muncul, tidak semua orang memiliki pengalaman yang sama karena perbedaan geografi, tahap kehidupan, atau status pekerjaan.
  2. Tetap Relevan
    Coba buat daftar tren dan insight penting bagi bisnis dan lihat bagaimana perkembangannya di bulan-bulan mendatang. Jika audiens terus memilih lebih banyak proyek DIY, ada baiknya jika sebuah bisnis mendukung hal tersebut.
  3. Rangkul Hal Baru
    Mencoba hal-hal baru menjadi salah satu cara menghadapi perubahan. Jika para pelaku bisnis tengah sibuk memikirkan strategi bisnis di masa mendatang, ada baiknya menerapkan pengujian terhadap hal-hal baru tersebut agar bisa tetap relevan dengan perilaku konsumen.

 

Itulah gambaran singkat mengenai perubahan perilaku, pola pikir, dan pola kerja konsumen yang belakangan terjadi. Semoga informasi ini bermanfaat!